Make your own free website on Tripod.com

Muhammad Nursalam

Populer

Home
artikel agama
Perkenalan
psikometri
Artikel Populer
Foto Keluarga
Populer
Info
Biografi
Artikel Pendidikan
Cerita Lucu
Teknologi

picturea.jpg

KAMPANYE ANTI NARKOBA DI AUSTRALIA

 

Muhammad Nursalam*

 

Akhir-akhir ini penyalahgunaan obat-obat terlarang sudah sangat menghawatirkan kita semua. Penyebaranya pun sudah merambah kemana-mana, mulai dari kehidupan glamour seperti kalangan artis dan bintang film sampai pada kalangan pinggir jalan. Bahkan sudah sering kita dengar kalanga pelajar-pun sudah banyak terlibat dalam kasus yang berhubungan dengan obat-obat terlarang.

 

Banyak solusi alternatif yang telah dikedepankan untuk mengantisipasi danpak penggunaan obat obat terlarang. Penulis mencoba menawarkan salah satu alternatif pencegahan dini dari penggunaan Narkoba. Tulisan ini menguraikan pencegahan dini sebagai upaya pemerintah Australia dalam mengantisipasi merebaknya penggunaan obat-obat terlarang dikalangan pelajar. Titik tekannya adalah bagaimana keluarga mengupayakan suasana harmonis dalam kehidupan rumahtangga.

 

Perkembangan penggunaan Narkotik dan obat-obat terlarang atau yang biasa kita sebut dengan Narkoba sudah sedemikian serius di Australia dua dasawarsa akhir-akhir ini. Tercatat berbagai survey telah dilakukan seperti halnya The National Drug Strategy Household Survey mengadakan penelitian kepada orang-orang yang berumur 14 tahun mengenal penggunaan Narkoba. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1985, 1988, 1991, 1995 dan 1998. Jenis Narkoba yang diteliti adalah cannabis, heroin, cocain, hallucinogens, dan designer drugs seperti MDMA (Ecstasi).

 

Hasil survei membuktikan bahwa, 22% penduduk Australia berumur 14 tahun mengaku telah menggunakan narkotik dalam 12 bulan terakhir pada tahun 1998. Pada tahun 1997-1998 tercatat 14.000 orang harus masuk rumah sakit karena efek-efek membahayakan oleh penggunaan narkotika. Selanjutnya survei tersebut juga mencatat bahwa 1023 orang meninggal dunia akibat penggunaan obat bius secara illegal pada tahun 1998. Selain itu, 39% dari penduduk Australia berumur 14 tahun keatas mengaku telah mencoba cannabis. 21% pria dan 15% wanita mengaku menggunakan cannabis dalam 12 bulan terakhir.

 

Yang membuat “panik” Pemerintah Australia adalah hasil survei tersebut mengungkapkan bahwa tingginya angka kematian akibat overdosis penggunaan narkoba, dan yang mencengangkan lagi adalah mayoritas pengguna Narkoba adalah kalangan yang masih berumur 20-29 tahun. Sehingga Perdana Mentri Australia, John Howard, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah kampaye yang bertitel The National Illicit Drugs Campaign sebagai suatu usaha untuk mencegah penggunaan obat bius dan narkotika di kalangan generasi muda Australia. Kampanye ini mendorong orang tua untuk lebih terbuka kepada anak-anak mereka untuk berbicara tentang berbagai hal mengenai narkoba dan effek yang ditimbulkan. Selain itu, pemerintah percaya bahwa dengan melibatkan orang tua dan keluarga yang sehat sebagai mitra dapat mencegah meluasnya penyebaran narkoba di kalangan muda Australia.

 

Dengan biaya sebesar AU$27.5 juta selama 4 tahun, kampanye yang diluncurkan pada tanggal 25 maret 2001 itu, memusatkan aktivitasnya pada iklan TV, Koran, dan billboard. Buku informasi mengenai narkoba dan sebuah brosure yang berisi tips untuk orang tua bagaimana cara memberikan penerangan kepada anak-anak tentang narkoba disebarkan keseluruh rumah-rumah di Australia. Sebuah website yaitu www.drugs.health.gov.au yang berisikan tentang informasi dan saran-saran untuk orang tua maupun pihak-pihak yang terkait masalah penanganan narkoba, tersedia dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. Tersedia pula nomor telepon yang dapat dihubungi yaitu 1800 250 015 untuk menanyakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Narkoba serta upaya preventif penanggualangannya dengan berkonsultasi secara gratis.

 

Pada bagian pertama, kampanye ini menitik beratkan pada orang tua sebagai contoh dan tauladan dirumah. Menurut hasil penelitian sebelum kampanye ini, menyebutkan bahwa 70% dari anak-anak muda mengaku bahwa pengaruh orang tua mereka dapat sedikit banyak mencegah mereka dalam bereksperimen dengan obat-obat terlarang. Dalam kampanye ini pula menekankan bahwa bila orang tua tidak memberi informasi yang benar mengenai drugs, maka anan-anak mereka akan mendapat informasi yang salah tentang narkoba dari orang lain. Ada sekitar 10 poin tips yang ditawarkan untuk orang tua mengenai cara pendekatan (berbicara dengan anak-anak) tentang Narkoba.

 

Poin yang pertama yang ditawarkan adalah menjadi sebahagian dari hidup mereka. Poin ini mengingatkan pada orang tua akan pentingnya perhatian dengan meluangkan waktu yang cukup untuk anak-anak. Orang tua sebaiknya menaruh minat dalam kegiatan mereka dan mendorong orang tua untuk melakukan kegiatan bersama mereka. Diharapkan pula bahwa orang tua tidak keberatan bertanya kemana anak-anak mereka pergi atau bersama siapa mereka pergi. Menghabiskan waktu yang luang bersama mereka penting, misalnya mengajak mereka berbicara dan makan bersama setiap hari dan memanfaatkan peluang lain diwaktu senggang bersama sebagai satu keluarga.

 

Poin yang kedua adalah, Dengarkanlah mereka. Orang tua yang menunjukkan kesediaan untuk mendengar masalah anak-anaknya akan membantu anak-anak mereka mendengar nasehat dari orang tuannya. Orang tua diharapkan untuk meminta tanggapan dari anak-anak mereka tentang pembicaraan keluarga untuk menunjukan bahwa orang tua menghargai dan mendengar pendapat anak-anak mereka. Diharapkan juga, orang tua tidak cepat memberikan reaksi yang berlebihan yang dapat memutuskan hubungan komunikasi denga anak-anak mereka. Selanjunya diharapkan pula, orang tua menggalakkan agar sudi berbicara dengan anak-anak mereka masalah yang biasa anak-anaknya hadapi baik disekolah maupun ditempat lain.

 

Poin ketiga dari kampaye ini adalah, berikan tauladan. Dalam hal obat terlarang tauladan orang tua mutlak diperlukan. Diungkapkan bahwa tidak mungkin orang tua mengatakan bahwa ”buat saja seperti yang saya suruh, bukan seperti yang saya buat”. Jika anda (orang tua) menggunakan obat terlarang, jangan harap anak anda mendengar nasehat yang anda sampaikan.

 

Poin ke-empat adalah Jujur. Hal ini penting agar orang tua mempunyai pengetahuan tetapi jangan berpura-pura mengetahui segalanya. Anda (orang tua) harus bersedia mengatkan “saya tidak tahu tetapi akan coba mencari tahu”. Berterusteranglah dan bersikap jujur tentang pendirian anda agar anak-anak akan lebih mudah berterusterang dengan anda.

 

Poin ke-lima adalah Pilihlah waktu yang baik. Diharapkan orang tua dapat memilih waktu yang baik untuk membicarakan sesuatu dengan memanfaatkan kesempatan secara spontan. Misalnya sewaktu nonton TV, sewaktu berbicara tentang teman sekolah atau sebagi tanggapan untuk hal lain yang juga sulit dibicarakan.

 

Poin ke-enam dalah Tenang. Diharapkan kepada orang tua untuk tenang dan bersikap rasional serta jangan melampaui batas. Orang tua harus selalu menjaga saluran komunikasi dan jangan mencemooh dan berpidato. Diingatkan kepada orang tua, jika anda marah, itu hanya akan menjadi hambatan terhadap pembicaraan selanjutnya.

 

Poin ke-tujuh adalah hindarilah perselisihan. Sangat sulit menyelesaikan masalah jika terjadi perselisihan. Orang tua diharapkan, cobalah mengeri pandangan mereka dan galakkan mereka memahami pandangan anda. Jika perselisihan timbul, hentikan percakapan dan mulailah setelah anda berdua lebih tenang.

 

Poin ke-delapan adalah tetaplah berbicara. Diharapkan kepada orang tua untuk tetap kontinyu berbicara dengan anak-anak mereka tentang narkotika dan effeknya. Pastikan bahwa anda selalu sudi berbicara dengan mereka tentang hal ini.

 

Poin ke-sembilan, Tetapkan batas-batas yang jelas. Kebanyakan anak-anak muda mengharapkan dan menghargai beberapa peraturan dasar. Jika anda sebagai orang tua memperbolehkan mereka turut menetapkan peraturan-peraturan tersebut, biasanya mereka menerima langkah seperti itu dan mereka biasanya bertanggung jawab atas peraturan tersebut. Setelah peraturan itu ditetapkan, pastikan anak-anak anda menyadari akibatnya jika peraturan dilanggar. Tentukan dan setujuilah tindakan yang boleh diambil olenya jika berada pada situasi dimana mereka terekspos kepada narkotika. Misalnya jelaskan bahwa anda akan selalu menjeput mereka jika perlu, meskipun ditengah malam. Akan tetapi, jelaskan dengan tegas bahwa sebaiknya anda tidak ingin mereka berada dalam situasi dimana mereka mungkin sekali tersekspos kepada obat terlarang.

 

Poin ke-sepuluh dari kampanye ini adalah, Fokuskan pada hal positif. Berikan pujian pada prilaku baik dari yang dilakukan oleh anak anda. Galakkan mereka agar puas kepada hasil karya mereka sendiri dan jelaskan bahwa mereka berhak dihormati.

 

Selanjutnya pada bagian kedua, kampanye ini menitik beratkan pada pemberian informasi langsung kepada anak muda itu sendiri. Hal ini dilakukan, supaya anak-anak muda Australia dapat memahami akan bahaya yang “mengintip” dibalik penggunaan obat-obat terlarang tersebut.

 

Walaupun Pemerintah menitik beratkan pada pihak keluarga, akan tetapi tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak seperti sekolah-sekolah, para dokter, group komunitas dan organisasi-organisasi sosial lainnya untuk bersama-sama dengan pemerintah memanggul tanggung jawab ini demi masa depan generasi muda. 

Banyak poin yang dapat kita jadikan contoh penanganan masalah Narkoba dari pemerintah Australia. Salah satunya adalah keterlibatan aktif orang tua untuk menciptakan suasana kondusif dan menyenangkan dalam rumah tangga, serta pola pendekatan yang di rekomendasikan dalam menghadapi semakin seriusnya masalah narkoba pada generasi muda dewasa ini. Hal ini pula memberikan gambaran kepada kita bahwa masalah Narkoba sudah mendunia sehingga dibutuhkan kerjasama dari semua kalangan untuk secara bersama bergandeng tangan mencari dan menemukan solusi alternatif yang lebih manusiawi dalam menanggulangi danpak yang ditimbulkan oleh Narkoba, jejak langkah dari Negeri Kanguru ini sedikit banyak dapat kita jadikan alternatif pendekatan, semoga.

 

Staf pengajar MTsN Model Kuripan

Peserta Program BEP Dep.Agama RI bekerjasama dengan

 Deakin University Melbourne Australia

Kiat Memenangkan Beasiswa

Sumber: Koran Kompas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0304/20/keluarga/263449.htm

Note: Tulisan ini ditulis sebagai hasil wawancara saat Workshop Milis Beasiswa di UNJ, Jakarta.

PADA era globalisasi di mana setiap orang mempunyai hak mendapatkan kehidupan yang lebih baik di seluruh muka Bumi, akan membuat persaingan pencari kerja semakin keras. Oleh karena itu, setiap orang harus membekali dirinya untuk bisa menang dalam mendapatkan pekerjaan, atau mampu membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri.

SALAH satu cara membekali diri adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas, baik di dalam ataupun di luar negeri. Namun, mendapatkan pendidikan yang berkualitas bukanlah yang mudah dan murah. Bagi orang berpunya, mereka akan mampu membiayai sendiri. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak punya cukup uang?

Salah satu jalan adalah beasiswa, namun untuk mendapatkannya juga bukan hal yang mudah. Ada ratusan bahkan ribuan orang berpotensi yang juga ingin mendapatkan beasiswa yang jumlahnya sangat terbatas.

Untuk mencoba beasiswa dari luar negeri, juga bukan hal mudah. Selain, karena harus bersaing dengan peminat dari negara-negara lain dan persyaratan yang tidak mudah, juga karena informasi mengenai beasiswa itu masih sedikit.

Beberapa yayasan pemberi beasiswa seperti AMINEF, memang mengiklankan di media massa. Namun, seringkali beasiswa yang ditawarkan tidak sesuai dengan minat yang ingin dikembangkan.

"Masalah informasi merupakan kendala terbesar saya untuk mendapatkan beasiswa. Saya yang bekerja di Papua, baru bisa membaca koran setelah satu minggu terbit. Jadi, persaingan belum dimulai, saya sudah harus menghadapi kendala dulu," kata Togap Siagian (29), penerima beasiswa Fulbright 2000 dan pendiri kelompok kores- pondensi surat elektronik internet khusus beasiswa (http://groups.yahoo.com/group/beasiswa).

SEJAK pertama didirikan, 21 Maret 2000, Siagian memang sendirian mengelola mailing list itu. Dia menjadi moderator surat-surat yang masuk, baik berisi pertanyaan, informasi mengenai beasiswa di seluruh dunia, dan kiat memenangkannya.

"Orang Indonesia punya potensi memenangkan beasiswa, namun mereka menghadapi banyak kendala yang sebenarnya bisa diatasi dengan mudah. Karena tidak bisa mengatasi kendala itu, mereka kalah. Mailing list ini bertujuan membantu memberi informasi untuk siapa saja yang ingin mendapatkan kesempatan sekolah dengan beasiswa. Semacam wadah saling berbagi informasi dan pengalaman," kata Siagian.

Sekarang, Siagian yang masih bekerja di Papua, sudah dibantu delapan moderator yang tersebar di Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Inggris, Jepang, Belanda, dan Amerika. Mereka menyortir, menjawab, menghapus surat elektronik yang tidak penting, dan memperingatkan pengirim surat yang tidak menjelaskan maksudnya dengan jelas. "Banyak peserta minta informasi tentang beasiswa untuk pendidikan master. Peserta ini tidak menjelaskan jenis pendidikan dan di mana. Kadang-kadang hal seperti ini menjengkelkan juga," aku Siagian.

Para milister (peserta mailing list) semakin hari semakin bertam- bah. Saat ini, jumlah peserta mencapai 6.900 orang yang tersebar di seluruh dunia. Untuk menjadi anggotanya, cukup mengirim surat kosong ke alamat beasiswa-subscribe@yahoogroups.com. Yayasan pemberi beasiswa pun agaknya telah percaya dengan mereka, sehingga sering memberi informasi mengenai program beasiswa dari lembaga mereka.

SELAIN dari mailing list beasiswa, informasi beasiswa juga bisa didapat dengan tiga cara. Pertama, mendaftar ke badan pemberi beasiswa. Misalnya Yayasan Sampoerna, Aminef untuk beasiswa Fulbright, dan British Council untuk Chevening Award.

Kedua, peminat bisa langsung mendaftar ke universitas yang diinginkan. Peminat bisa berkores- pondensi langsung dengan profesor di universitas itu dan minta surat rekomendasi.

Ketiga, melalui penelitian. Biasanya jika seorang profesor atau universitas ingin melakukan penelitian besar, mereka membutuhkan asisten. Asisten ini akan dibayar, dan uangnya bisa dipakai biaya studi dan biaya hidup. Biasanya, mereka akan mendapatkan biaya studi lebih murah karena mereka bekerja untuk universitas. Lagi pula, proyek penelitian seperti ini akan memakan waktu minimal lima tahun, waktu yang cukup panjang untuk studi.

Dari ketiga cara mendapatkan beasiswa itu, hal terpenting yang harus dipegang peminat beasiswa adalah memenuhi syarat yang diminta. Jika memang diperlukan nilai TOEFL/IELTS (standar nilai kemampuan berbahasa Inggris), pastikan memilikinya. Begitu juga bila diperlukan syarat kecakapan matematik seperti GMAT, dan lainnya.

Menurut Pangesti Wiedarti, dosen Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta yang juga penerima beasiswa doktor di bidang linguistik Universiy of Sydney, sebaiknya peminat beasiswa mencari beasiswa tidak di satu universitas saja. "Carilah di beberapa universitas agar mendapatkan beasiswa yang benar-benar cocok," ujar Pangesti.

Sidrotun Na'im, penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2003 me- ngatakan, peminat beasiswa dari Indonesia bagian timur memiliki peluang lebih besar daripada peminat Indonesia bagian barat. Sepertiga dari jatah beasiswa ADS yang ada diberikan untuk Indonesia timur. "Jika dilihat dari potensi dan kondisi Indonesia timur, peminat Indonesia timur memiliki peluang lebih besar," kata Sidrotun.

Salathiel Gideon, penerima beasiswa S2 dari Yayasan Sampoerna mengatakan, dirinya menerapkan empat langkah strategis untuk memenangkan beasiswa itu.

Pertama, ketika memutuskan mendaftar beasiswa, dia membuat perencanaan. Apa saja yang harus dia lakukan untuk beasiswa tersebut. "Saya menentukan program apa yang akan saya ambil, lalu saya catat apa saja yang dibutuhkan jika saya mengambil program tersebut. Saya juga belajar membuat surat rekomendasi dan mempersiapkan diri untuk tes wawancara," kata Gideon.

Kedua, Gideon melakukan tahap-tahap yang telah dia tentukannya dalam rencana. Dia mengakses situs Yayasan Sampoerna dan mencari tahu apa saja yang diminta. "Saya benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tulis. Saya cari buku-buku yang bisa menjadi nara sumber. Kemudian, saya berdiskusi dengan pemberi rekomendasi. Selain itu, saya juga berkonsultasi dengan teman-teman yang pernah mendapatkan beasiswa," kata Gideon.

Ketiga, mengecek apa yang telah dia lakukan. Gideon berulang kali melihat apa yang telah dia pelajari dan mencoba mengerjakan tes yang ada. Dia juga mengecek adakah persyaratan yang belum dia penuhi.

Keempat, mengecek ulang. Jika memang apa yang telah dia lakukan masih dirasakan kurang, Gideon tidak ragu-ragu mengulang. Begitu juga dengan surat rekomendasi. Jika, surat rekomendasi itu dirasa tidak membantu, lebih baik mencari rekomendasi lain. "Saya pertimbangkan benar, apakah surat rekomendasi itu sungguh-sungguh mengevaluasi diri saya dengan adil. Jika tidak, lebih baik saya cari rekomendasi lain," tegas Gideon. (ARN)

Tips Prinsip Dasar Beasiswa

Oleh: Chrisma Albandjar

Teman-teman pencari beasiswa / scholarship,

Saya ingin memberi satu tips mengenai prinsip dasar beasiswa / scholarship. Sebelum anda mencari beasiswa / scholarship, anda harus yakin dulu bahwa anda memang mau belajar apa yang anda katakan ingin anda pelajari, dan harus tahu apa yang akan anda sumbangkan kepada orang banyak sesudah anda selesai dalam studi anda.

Beasiswa / scholarship bukan hanya sekedar mendapatkan UANG untuk sekolah, tapi yang lebih penting adalah apakah uang yang didapatkan itu memang pantas anda dapatkan. Proses beasiswa / scholarship berjalan panjang dan sangat kompetitif. Banyak orang berkorban moril bisa mendapatkan beasiswa / scholarship itu, karena memiliki cita-cita yang tulus dan berguna untuk orang banyak. Karena itu Anda betul-betul harus yakin mengenai langkah yang anda ambil saat apply beasiswa / scholarship, karena apabila anda mendapatkan beasiswa / scholarship tanpa tahu apa tujuan jangka panjang anda, apa tujuan anda sekolah, dan bagaiman hasil sekolah anda akan berguna bagi orang banyak, maka anda mengambil tempat orang yang sebenarnya lebih pantas mendapatkan beasiswa / scholarship tersebut.

Saya agak keras dalam prinsip ini, karena banyak orang mencari beasiswa / scholarship untuk bisa hidup lebih enak, dapat gaji lebih besar, pergi ke luar negeri dan dapat posisi yang jauh lebih baik, atau bahkan cari kerja di luar negeri tanpa bermaksud pulang dan mengembalikan keberuntungan itu ke masyarakat Indonesia. Hidup lebih enak, gaji lebih besar itu sah-sah saja dan sangat manusiawi, tapi jangan lupa mengenai mengembalikannya ke masyarakat umum. Karena beasiswa / scholarship itu scarce resource yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya. Dan beberapa sumber beasiswa / scholarship itu adalah hutang negara, atau hasil kerjasama negara kita dengan negara lain dsb, yang secara tidak langsung merupakan "cost of the people of Indonesia".

Saya mengajak teman-teman untuk sedikit mengurangi rasa individualistis kita dan memikirkan kepentingan orang banyak. Dengan keinginan anda semua mendapatkan beasiswa / scholarship, dan bersedia meluangkan waktu untuk mengisi formulir yang banyak sekali, mencari rekomendasi, dan berbagai proses panjang, saya yakin bahwa anda semua mempunyai cita-cita yang lebih dari hanya sekedar keinginan material dan sekolah gratis.

Negara kita sedang membutuhkan orang-orang yang pintar, punya cita-cita, optimis, kreatif dan idealis. Orang-orang seperti itulah yang pantas mendapatkan beasiswa / scholarship dan disekolahkan oleh "rakyatnya" dengan harapan kembali lagi ke negara ini untuk membantu mereka. Dan saya yakin bila anda memiliki semua itu, maka anda akan mendapatkan beasiswa / scholarship yang anda inginkan. Itulah yang membedakan penerima beasiswa / scholarship dengan yang lainnya.

Good luck.

Salam,
Chrisma Albandjar

Fulbright Student 2001
Broadcast and Electronic Communication Arts Department
San Francisco State University

 

Saudara-saudara kita yang pernah meraih Beasiswa

Penerima Beasiswa dari ADB

Saya bersama 89 peserta penerima beasiswa untuk studi Ke Deakin University Melbourne Australia dalam suatu Pelatihan Bahasa inggris tahun 1999 bertempat di PPPG sawangan Depok

nulamkak.jpg

Penerima Beasiswa Departemen Agama 2006

Penerima beasiswa Departemen Agama dalam suatu Aktifitas perkuliahan Pada Fakultas Psikologi Kekhususan Psikometri Di Kampus Universitas Indonesia

dsc.jpg