Make your own free website on Tripod.com

Muhammad Nursalam

Biografi

Home
artikel agama
Perkenalan
psikometri
Artikel Populer
Foto Keluarga
Populer
Info
Biografi
Artikel Pendidikan
Cerita Lucu
Teknologi

picturea.jpg

 Masa Kecil

 

Lahir dari pasangan A.Rasyid HY dan Siti Khadijah dengan nama kecil Abdul Muzakkir tapi nama itu tidak bertahan lama, nama itu diganti dengan Muhammad Nursalam oleh seorang Syeh yang cukup berpengaruh di kabupaten dompu yaitu Syeh Mahdalli atau biasa dipanggil dengan Syeh Boe. Saya dilahirkan tepat pada hari Minggu pagi tanggal 1 Juli 1973 disuatu kampung yang bernama Kampung Salama Kel. Bada Dompu.

Masa kecilku dilalui dengan keceriaan bocah kecil dengan tingkah pola yang menggemaskan. Sejak kecil aku sudah ingin menonjol dibanding denga saudaraku yang lainnya. Kami semuanya dilahirkan 8 bersaudara tapi 2 orang saudaraku telah mendahului meninggalkan alam fana dengan usia terlalu dini.

 

Kenangan yang paling manis adalah pada waktu aku banyak terlibat dalam kegiatan sekolah seperti paduan suara, tarian daerah maupun baca puisi antar SD se kab. Dompu. Yang lucu adalah pada awalnya aku tidak terpilih dan hanya menonton rekan-rekan yang berlatih membaca puisi dengan cara deklamasi, tapi sambil menonton aku coba menghafal dan mendeklamasikan puisi yang dibacakan dan berhasil dengan baik maka terpilihlah aku untuk mewakili sekolah. Sejak itulah aku sering dipercayakan mewakili sekolah pada lomba-lomba walaupun aku hanya turut berpartisipasi alias penggembira semata.

 

Group tari daerah-pun aku berkecimpung dengan penuh suka dan duka, suka karena bisa terpilih dan sering pentas dimana-mana seperti lomba tarian daerah antar sekolah yang diadakan di Lingkungan Kandai II Dompu. Duka, karena saat itu papa lagi mendapat tugas ke Mataram dan sang mama dalam keadaan sakit yang payah sekali, sehingga praktis aku diantar jemput olah orang tua teman-temanku.

Aku sering mendapat rengking teratas khususnya sejak kelas 4 sekolah dasar dan pelajaran yang paling aku senagi pada saat SD adalah Ilmu-ilmu sosial khususnya Peta dan ilmu-ilmu yang membutuhkan hafalan.sehingga paraktis Peta Indonesia lengkap dengan ibukota dan pulau-pulau terkecil di wilayah Nusantara sudah aku kuasai sejak kelas 5 SD.

Setelah lulus SD. Aku melanjutkan masuk SMP I Dompu satu-satunya SMP Favorit di Kota Dompu dan diterima di kelas Ic yang merupakan kelas unggulan dilihat dari katagori NEM ketika lulus SD. Saingan bertambah banyak dan rasa tidak percaya diri menyelimuti sehingga prestasi sewaktu di SD tenggelam seiring mulai rajin bermain sepakbola selepas sekolah dengan teman-teman, tapi toh aku bisa lulus dengan NEM yang lumayan sehingga aku dapat diterima di SMA I Dompu pada Kelas I1 sebagai kelas unggulan pada saat itu. Di SMA aku mulai bangkit dan mencoba mengejar ketertinggalan untuk memasuki Kelas Jurusan A1 (ilmu Fisik) dan aku-pun diterima di kelas ynag terkenal angker dan berat tersebut. Pada waktu SMA aku mencoba belajar berorganisasi dengan berkecimpung dalam OSIS SMAN I Dompu pada bidang kerohanian. Mulailah aku berkenalan dengan pengurusan administrasi dan pragram kerja khususnya kegiatan dakwah di sekolah. Sejak SD, orang tuaku sudah banyak membekali dengan ilmu agama dengan banyaknya buku-buku pelajaran agama terbitan Dep. Agama yang dibawa oleh orangtuaku yang memang bekerja di Kandep Agama Kab. Dompu.

 

Kemampuanku semakin terasah ketika Dep.Agama kab. Dompu mempunyai program cerama agama olah siswa setiap malam jumat di Mesjid Baiturrahman Dompu. Sehingga pada acara Isra’ dan Mi’raz gabungan SMP I dan SMA I yang diadakan di Masjid kebanggaan masyarakat dompu tersebut aku terpilih menjadi Penceramah bersama satu wakil dari siswa SMP dan satu dai kondang Dompu yaitu Ust. Sulaiman. S.Ag.

 

Akhirnya masa SMA-pun berlalu dengan ditandai pengumuman lulus siswa angkatan 1991, dan aku-pun lulus. Kelulusan dari SMA tidak terlalu membuatku bahagia karena orang tuaku sudah menetapkan bahwa kau tidak bisa melanjutkan sekolah dulu alias ditunda karena alasan biaya mengingat kedua kakak ku semuanya masuk Perguruan Swasta yang tentu saja membutuhkan biaya yang banyak dan mereka pada saat itu masih menyelesaikan tugas-tugas akhir dan ujian negara. Aku-pun harus bersabar walaupun dengan berat hati aku terima keputusan tersebut. Aku hanya menatap dengan getir kepergian teman-temanku melangkahkan kaki meninggalkan Kota Dompu untuk melanjutkan sekolah ke Mataram dan berbagai kota di Jawa dan Sulawesi.

Untuk mengisi kekosongan waktu aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan olah raga dengan memasuki olah raga beladiri KEMPO yang lagi ngetren di kota Dompu. Disamping itu aku-pun mulai menerima orderan bekerja serabutan seperti membantu pengecatan tembok sekolah di SD Sori sakolo dan pemasangan kabel telepon mulai dari simpasai sampai rasanggaro Dompu. Memang dari sejak masis sekolah aku sudah ingin merasakan mencari duit sendiri untuk segala keperluanku dan keperluan adai-adikku dengan bekerja setengah hari sebagai buruh di Gudang Tembaku PT Sampoerna, yang kebetulan penanggung jawabnya adalah bapak teman sekelasku.

 Hari berlalu dan bualan-pun berganti sekitar 3 bulan sebelum keberangkatanku ke Ujungpandang untuk melanjutkan sekolah sebagaimana yang dijanjikan orang tuaku, aku dikirim untuk hidup di kampung orangtuaku yaitu di Hu’u. akau betul-betul menikmati kehidupan anak petani. Tiap hari aku diajak kesawah untuk bergembala kerbau milik adik sepupu orang tuaku dan sore harinya aku ke-laut untuk mencari nener dan hasilnya aku jual kepada pengumpul yang mendatangi tempat tinggalku dua kali sehari. Terkadang aku bersama dengan orang tua angkatku mencari ikan dilaut atau kerang laut untuk lauk sore harinya. Jiwaku ditempa oleh alam dan tumbuh kesadaran akan perjuangan hidup yang cukup sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan selanjutnya dan sangat terasa manfaatnya ketika merantau ke kota Ujung pandang.  

  Setelah menimba pengalaman sebagai anak petani, aku dipanggil kembali oleh orang tuaku untu mempersiapkan diri merantau ke tanah Makassar. Dengan menumpang kapal penumpang PELNI yang bernama KM Kelimutu dan diantar oleh sang mama tercinta, aku meninggalkan kota Bima menuju Tanah rantau di Makassar. Ditengah laut yang seakan tak bertepi terbayang kenangan sewaktu menggriring kerbau di pematang sawah, mencari nener di tengah gulungan ombak pantai  nanga rumba, bahkan berjalan menyusuri pantai untuk membeli kebutuhan sehari-hari dengan anak tetangga dan aku-pun mencoba menatap kedepan bahwa diseberang laut sana ditanah tujuan perantauan terpancar secercah harapan, berkilau bak butiran cahaya laut yang disirami sinar matahari, harapan dan tujuan yang akan dicapai yaitu menuntut ilmu untuk bekal dihari-depan.

 

Tiba di kota Makassar hari sudah mulai gelap setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam, aku dijemput saudaraku dan langsung dibawa kerumah tempat tinggal dan itulah pertama jumpa dengan ummi, orang tua yang banyak membantu kedua kakaku dan keluargaku semasa keduanya berada di Makassar. Aku memang datang sedikit lebih awal sebelum ujian penerimaan mahasiswa baru dengan perhitungan agar aku dapt mempersiapkan lebih awal untuk masuk perguruan tinggi. Orang tuaku berpesan dan sangat berharap aku masuk mendaftar di IAIN jurusan Tadris Matematika. Padahal bayanganku tentang IAIN adalah perguruan tinggi yang mengkhususkan diri pada ilmu-ilmu agama, sementara semua jenjang pendidikanku adalah di sekolah-sekolah umum. Akhirnya aku meminta ijin kepada orang tuaku untuk mengikuti UMPTN terlebih dahulu baru mendaftar pada IAIN sebagaiman harapat kedua orang tuaku. Aku mendaftar dengan mengambil jurusan Kimia Murni pada UNHAS dan pilihan kedua adalah Tanah Dan Pemupukan Pada Universitas Mataram NTB.

 

Hari-hari awal di Makassar aku membenamkan diri dalam persiapan ujian UMPTN, kakaku-pun ikut sibuk mengumpulkan bahan-bahan  ujian berupa soal-soal dan buku-buku untuk persiapan UMPTN. Ujian UMPTN aku jalani selama dua hari tepatnya tanggal 31 juni sampai tanggal 1 juli, aku sangat menghafalnya karena pada hari kedua adalah hari ulang tahunku. Aku teringat hari itu adalah hari ulang tahunku karena dari tempat ujian terdengar bunyi Drum Ben yang ditabuh pada acara Ulang tahun Kepolisian yang dipusatkan di lapangan Karebosi Makassar bersebelahan dengan lokasi ujian. Sambil menunggu pengumuman hasil UMPTN aku mengikuti ujian masuk IAIN, sebenarnya aku tidak mendapatkan kesulitan berarti pada ujian IAIN terutama pada mata ujian dasar pendidikan agama, bahasa dan Matematika. Yang membuatku hawatir adalah pada mata ujian Bahasa Arab, karena memang aku tidak pernah belajar bahasa arab sama sekali sebelumnya, sehingga membuatku sangat hawatir dan takut tidak berhasil mengingat kedua orang tuaku sangat berharap aku bisa masuk di IAIN sebagaimana harap keduanya.

 

Tiba  hari pengumuman ujian masuk IAIN, aku datang terlambat untuk melihat hasil ujian. Pengumuman hasil melalui koran kampus dan celakanya aku sudah tidak kebagian koran lagi, terpaksa aku pinjam kepada orang-orang untuk melihat pengumuman tersebut dan kebahagian terpancar ketika aku elihat namaku tertera pada urutan teratas pada penerimaan mahasiswa baru IAIN Jurusan Tadris Matematiak, Alhamdulillah.

 

Hari-hariku setelah pengumuman lulus IAIN, disibukkan oleh pendaftaran ulang dan persiapan Penataran P4 dan OSPEK. Rutinitas dan kesibukan kampus seakan membuatku lupa bahwa aku masih menunggu hasil UMPTN, tepat hari kedua penataran IAIN muncul pengumuman secara lokal calon mahasiswa yang terjaring UMPTN dan namaku-pun terpampang di lembar pegumuman, aku mencoba cuek dan seakan tak percaya bahwa aku lulus. Tidak berapa lama disaat aku setengah hati mengikuti penataran muncul Dae Nukman yang memberitakan bahwa aku lulus UMPTN, aku-pun sadar dan berpesan kepada kakakku untuk melihat  pada jurusan mana aku diterima. Rupanya setelah diteliti aku diterima pada jurusan tanah dan pemupukan UNRAM, artinya jika aku memutuskan untuk keluar dari IAIN aku harus siap-siap menuju Mataram. Akhirnya setelah bermusawarah dengan kedua kakakku, kami memutuskan untuk mengontak orang tua di Dompu untuk mendapatkan pertimbangan. Lewat tetangga mama mengambil keputusan untuk melanjutkan menuntut ilmu di “Kampus Hijau” saja, mengingat akan banyak lagi dana yang akan dikeluarkan jika aku menarik diri dari IAIN menuju Mataram, sebab persoalan pembayaran di IAIN semuanya sudah dilunasi. Keputusan itu kembali ditegaskan oleh orang tuaku dengan mengirim telegram yang bunyinya untuk tetap memantapkan hati melanjutkan studi di IAIN dengan penghujung harapan mama, semoga akan “mendapatkan berkah”. Akhirnya pupus sudah harapanku untuk masuk ke-Universitas dan aku harus memantapkan diri di IAIN walau-pun tersisa raut kekecewaan terutama dari Dae Nukman karena memang dialah yang sangat mendorong untuk aku berhasil masuk Universitas Negeri yang sekaligus sebagai kebanggaan mengingat mereka berdua termasuk dari sekian orang yang gagal menembus dinding UMPTN.

Penatarn & OSPEK IAIN Alauddin Makassar

 

Hari-hari pertama kuliah aku lakoni dengan sewajarnya dan sedikit demi sedikit aku dan dae Nukman menyadari mungkin ini keputusan terbaik. Akan tetapi Dae Nukman berharap walau aku masuk IAIN harus menjadi yang terbaik dan harus banyak menimba pengalam. Akhirnya dengan dorongan darinya dan memang sudah menjadi hobiku berorganisasi, aku mulai mengikuti latihan kepemimpinan yang diadakan olah fakultasku. Mulailah aku bergelut dan mengetahui seluk beluk kegiatan kemahasiswaan. Untuk lebih efektifnya perkuliahan dan segala macam aktifitas, aku mencari rumah disekitar kampus dan sekaligus merasakan suka duka menjadi anak kost. Pertama-tama aku kos di jl. Manuruki Raya no.13 selama satu tahun. Setelah itu karena kekurangan biaya, aku kembali kerumah ummi di jalan Hati Gembira no.19 kelurahan Mattoangin Kec. Mariso kota Makassar. Enam bulan berikutnya, aku pindah lagi di dekat kampus yaitu di Jl. Alauddin II.  

 

 

ORGANISASI

Semester I praktis aku hanya menenggelamkan diri dalam proses perkuliahan, sehingga IP-ku untuk semester pertama menempati urutan ke-dua dengan IP 3,40 suatu awal yang baik dan menggembirakan.

Demikian juga dengan semester ke II aku meraih IP 3,20 dan dalam masa liburan setelah merampungkan latihan kepemimpinan aku mengikuti pengkaderan sebagai sarat memasuki dan berkiprah dalam organisasi ekstra kampus yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Aku memilih IMM, karena aku pikir suatu saat nanti aku ingin berkiprah dalam salah satu organisasi keagamaan terbesar di Negeri ini, selain itu orang tuaku termasuk salah satu pengurus Muhammadiyah cabang Dompu.

 

Setelah menyelesaikan pengkaderan, kami-pun harus menjadi panitia untuk pengkaderan berikutnya dan aku ditunjuk untuk menjadi ketua panitia. Mulailah aku bergelut dalam dunia kegiatan ekstra kampus berinteraksi dengan mahasiswa dari seluruh kordinator komisariat di masing masing fakultas dan perguruan tinggi lainnya. Ini menambah wawasanku dan menempa mentalku dalam mengarungi pergulatan pergerakan kehidupan kemahasiswaan yang dinamis dan menantang. Selain itu, di bidang seni aku mencoba melibatkan diri dalam teater Matahari yang diasuh oleh IMM Korkom IAIN Alauddin, dan sempat mengadakan pentas seni diberbagai tempat dan daerah. Terhitung mulai dari kota Makassar, Gowa, Takalar, Bulukumba sampai ke Kab. Sinjai. Sempat pula mengadakan pentas di kota Pare-pare serta kabupaten Maros pada acara perpisahan KKN Universitas Muhammadiyah Makassar. Dari keaktifan pada teater Matahari, saya-pun masuk nominasi untuk bergabung dengan beberapa anak-anak sanggar seni se-Kota Makassar dalam lakon Kappalak Talung Batua, suatu cerita kepahlawanan dan keperkasaan kerajaan Makassar dalam menghadapi tentara Kompeni Belanda.

Di dalam pergulatan organisasi Intra kampus, saya melakoni dengan penuh suka dan duka. Suka, karena dapat mencatatkan diri sebagai Ketua HMJ Tadris periode 1995/1996, hal ini tidak mudah didapatkan. Penuh intrik politik dan ketegangan antara sesama kandidat untuk merebut kursi “kekuasaan” walaupun satu mata kuliah harus menjadi tumbal dengan mendapat angka Nol, suatu angka yang sejak awal tidak pernah terlintas sedikit-pun dalam pikiran untuk mampir pada daftar nama di kolom nama saya. Aku-pun tersentak dan perjuangan rupanya harus berbarengan dengan pengorbanan, dan saya harus rela untuk mengulangnya kembali pada semester yang akan datang.

Tak terasa hari berganti bulan bertukar tahun, aktifitas sehari-hari sebagai Mahasiswa yang penuh idealisme bercampur dengan lakon seni dan gulatan organisasi ekstra serta intra kampus dilalui dengan suka dan duka. Tibalah masa PPL yang bertempat di MAN II Makassar, dan pada semester 8, tugas KKN harus dilakoni. Saya mendapat tempat KKN  di Desa Benteng Alla Kec. Alla kab. Enrekang. Aktifitas KKN berjalan dengan indah dan menyenangkan walaupun pada awalnya sedikit bermasalah. Masalahnya, saya datang terlambat dibandingkan dengan teman-teman serombongan kec. Alla.

Pasalnya, saya harus mengikuti Penataran P4 untuk pemuka agama se-Sulawesi Selatan selama 10 hari di Asrama Haji Sudiang. Akan tetapi, ada hikmah tersendiri saya dapat berkenalan dengan utusan dari kab. Enrekang, kebetulan beliau bertugas sebagai Kepala Urusan Agama di Kecamatan tujuan KKN, yang nantinya bapak kepala KUA tersebut banyak membantu dalm penyusunan program kerja KKN dan dia-pun ikut membantu program yang ditawarkan tersebut, semisal pelatihan pengrusan Jenazah dan pelatihan Mubalik Muda.

Sekembali dari lokasi KKN yang penuh kenangan, berbagai aktivitas kampus kembali kugeluti untuk persiapan tugas akhir. Bersamaan dengan itu aktivitas pengajian dan ceramah agama semakin bertambah. Pengabdianku dan rasa tanggung jawab akan ajaran agama mendorong untuk banyak memberikan manfaat bagi ummat dengan melayani permintaan menjadi penceramah agama di berbagai pengajian dan menjadi khatib shalat jumat setiap minggu. Khusus menjadi khatib, saya tercatat pada kelompok kajian atau diskusi kecamatan Mariso yang dipimpin oleh H.Abdullah, yang secara otomatis siap menjadi Khatib di berbagai Masjid se-Kota Makassar khususnya kec. Mariso. Sementara aktivitas yang lain semacam olahraga Kempo, sudah sedikit saya kurangi mnengingat  banyak aktifitas yang lain seperti LSM. Dibidang LSM, saya sangat respek pada keberadaan LSM yang bergerak dibidang Lingkungan hidup. Berawal dari mewakili  kepala sekolah DDI Kec. Mariso, sekolah tempatku mengabdi, pada seminar dan lokakarya pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup pada mata pelajaran disekolah. Saya tercata tiga besar untuk mewakili Sulawesi Selatan untuk menuju ke Mojokerto Jawa Timur, untuk mengikuti Lokakarya Guru Internasional tentang lingkungan hiodup dan sekolah. Peserta yang datang selain dari LSM juga adalah guru-guru di daerah Jawa timur, Bali, Jawa tengah, Sulawesi Selatan dan para guru dari sekolah-sekolah Benua Eropa Utara semacam Finlandia, Irlandia, Swedia, Inggris, Belanda dan Jerman.

 


Kegiatan itu berlangsung sepuluh hari yang mengambil lokasi di Pusat Pengembangan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman Kec. Trawas Mojokerto. Banyak pengalaman yang dapat dipetik, selain interaksi dengan sesama peserta, dengan suasana kompleks PPLH yang asri, juga pengenalan pertama makan pagi ala Eropa. Sebenarnya perhatianku pada materi yang disajikan agak berkurang sebab bersamaan dengan kegiatan tersebut mamaku yang tercinta, yang sangat mendorong untuk beragakat ke Seloliman sedang sakit. Hampir setiap hari aku ke kec. Trawas untuk menelpon ke Dompu atau-pun ke Mataram untuk menanyakan keadaan mama.

Saat kami hendak pulang dengan tujuan kota Makassar, saya dimintai tolong oleh seorang teman untuk menemaninya ke Jakarta untuk menghadiri acara wisudah suaminya, aku coba menhubungi mataram untuk mengetahui keadaan mama, rupanya mama dalam keadaan baik dan aku-pun berangkat ke jakarta. Setelah sekitar 3 hari di Jakarta, hatiku resah hendak pulang dan selalu rindu pada mama tercinta. Aku selalu mimpi tetapi sangat sulit aku menterjemahkan mimpiku dan aku coba bersujut kehadirat Allah SWT dan berdoa semoga mama dalam keadaan baik dan sehat selalu. Aku membelikan baju daster untuk oleh-oleh. Aku-pun pulang menuju surabaya. Sampai disurabaya aku membeli tiket untuk pulang menuju Mataram dengan tujuan menengok mama di rumah sakit, aku coba telepon ke Dompu sekitar jam 3.00 sore, dan diterima oleh adik-ku Nining untuk menanyakan keadaan mama. Begitu telepon berdering terdengar suara tangis adik-adik ku, hatiku bertambah resah dan kalut, telepon berpindah ke Dae Numan, dengan suara yang sangat sedih dia mengatakan bahwa mama sudah dikuburkan pada jam 12 siang pada hari itu juga, Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rajiuun. Aku pejamkan mata terpaku, seakan tak percaya, rupanya Allah telah mengambil keputusan terbaik bagi kami semua. Mamaku yang tercinta, tempat kami menumpahkan kasih sayang telah mendahului kami semua. Aku menyesali diri, terpaku di dalam Wartel, perasaan bersalah berkecamuk, aku-pun pasrah pada takdir Ilahi. Dengan hati yang remuk redam aku menambah bayaran dan membeli tiket langsung ke Dompu.

Ditengah perjalanan, tak henti-hentinya aku berdoa, baik dalam Bis, di atas ferri maupun ketika shalat, semoga mama diberikan pengampunan dan diterima amal ibadahnya selama hidup didunia, selama mengasuh dan mendidik kami semua, anak-anaknya. Dan tak lupa aku berdoa semoga Allah memberikan ketabahan kepada aku dan seluruh keluargaku untuk dapat menerima cobaan dan takdir ini. Aku tiba di Dompu sekitar jam 10 malam, dari kejauhan terdengar suara orang-orang yang mengaji dan aku sudah menduga bahwa itu adalah suara bersumber pada rumahku, aku dijemput oleh dae Nukman. diatas Motor kupeluk kakak-ku dengan penuh ketabahan dan sampai dirumah aku langsung ke kamar dimana jenazah mamaku disemayamkan, aku cuma mendapatkan ranjang yang kosong dengan taburan haruman bunga melati serta suasana kematian. Aku terpaku dan sejenak berdoa, ku ciumi tempat dimana jenajah di semayamkan dengan linangan airmata tertahan. Hatiku berdoa “Ya Allah, engkau kuasa, engkau pemilik langit dan bumi dan semua yang ada didalamnya, engkau ambil mamaku disaat aku tidak disisinya, semoga Engkau meridhoi dan kami-pun ridho atas takdirmu, Yaa Ilahi Rabbi”.

Pagi, sekali setelah selesai sembahyang subuh di Rumah dengan di Imami oleh Papa kami berkumpul secara keseluruhan, sambil menunggu matahari yang sebentar lagi terbit, akau terus berdoa. Dan kami sekeluarga termasuk dae Natsir yang datang pada sore harinya, berziarah ke kuburan mama di Pemakaman umum Rade Sala Dompu. Terpaku aku dalam doa yang dipimpin oleh papa, air mata meleleh membasahi pipi, batinku merintih ma’afkan aku mama, aku tidak sempat melihat wajah terakhirmu, semoga Allah memberimu tempat yang layak dan mengampuni segala dosa mama serta menerima amal ibadahmu, aku berjanji dalam hati untuk menjalankan amanah terakhir dari mama yaitu menjaga dan menemani adik-adikku.

Setelah genap Tujuh hari, aku berada di rumah. Aku kembali ke Makassar untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahku, aku berpamitan pada pusara mamaku, dan berangkat menuju Kota Makassar dengan diantar oleh saudara-saudaraku melepas di pelabuhan Bima. Anganku menerawang, menembus dinding batas ruang, teringat saat pertama aku merantau ke Makasar, mama-lah yang mengantarkanku, lambaian tangan, kecupan sayang dan doa dari mama menyertai seiring menjauhnya kapal dari dermaga Bima menuju Makassar.

Masih dalam suasana duka, kularutkan diriku untuk menyelesaikan tugas akhirku dengan target harus selesai dalam waktu singkat. Aku berhasil dengan IPK yang sangat memuaskan walau tidak mampu melampaui IPK-nya dae Nukman sebagaimana cita-citaku dahulu. Aku tercatat terbaik kedua di tingkatku dengan IP 3,13 dengan skripsi sangat memuaskan dengan Judul Skripsi “ Studi Eksperimen Penerapan Metode Trachtenberg pada Pengajaran Matematika pada SDN Mattoangin II Kota Ujung Pandang”.

Akhirnya, tiba saat wisuda, papa membesarkan hatiku dengan kehadirannya mendampingi saat aku diwisudah. Selesai sudah perjuangnku meraih cita-citaku yang sekaligus cita-cita kedua orang tuaku. Aku sadar inilah maknah dari ucapan almarhum mamaku, teruskanlah masuk IAIN semoga ada berkahnya. Rupanya papa datang dengan berita baik untukku, papa membawa informasi untuk secepatnya kembali dan langsung menuju Kota Mataram untuk mengabdi sebagai tenaga pengajar di STAIN Mataram.

Aku-pun kembali, kunaiki tangga Kapal PELNI menuju ke kampung halamanku, dari atas kapal kupandangi seluruh kota Makassar, di kota inilah sebagian hidupku kutorehkan, jejak langkahku, suaraku ketika mengabdi sebagai guru honorer disekolah sekolah agama, suaraku ketika Khutbah dan ceramah agama di masjid-masjid, suaraku-pun terekam ketika kami meneriakkan kebenaran dan tuntutan ketika berdemo, seakan semua masih terdengar dan bersahutan di alam bawah sadarku. Kucoba sedikit, menerawang, disini…., cita-citaku terukir, disinipula hatiku terpaut dengan seorang gadis yang kucintai sejak aku disemester 4, lama kami bersama, tapi dia tidak datang saat aku pulang terpaksa ku ucapkan selamat tinggal, aku tak tahu apakah aku masih dapat menginjakkan kakiku di tanah Makassar atau tidak, masa manis ketika di kampus hijau terpampang indah dipelupuk mataku. Aku coba memejamkan mata, semakin kenangan kota ini terpampang jelas, aku termenung lama, lama sekali….hiruk pikuk penumpang seakan tertelan oleh gemuruh dan berkecamuknya hatiku. Pluit kapal-pun berbunyi menyentak hati dan lamunanku, aku sadar aku sudah melangkah untuk pulang, kuseret kakiku menuju ke Dek tempat tidur, selamat tinggal kota Makassar, seribu kenangan telah terukir dan engkau jadi saksi akan sejarah hidupku. Aku kan membuat lembaran baru, di sana di kota Mataram, kota rimbun bagaikan berada dalam sebuah kebun yang sangat damai, sebagai mana impian kami ketika berjuang untuk lingkungan hidup dahulu.                

            Kabar baik yang dibawa oleh papa telah memicu semangatku untuk segera meninggalkan Kota Makassar walau-pun  saya menyadari bahwa semua itu tidak mudah. Akan tetapi saya harus menentukan sikap bahwa merenda hari esok yang lebih cerah adalah lebih baik daripada kita terbuai kenangan masa lalu, walau-pun kenangan itu tidak serta merta kita lupakan karena dia adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Perpisahan yang paling berat dirasakan adalah berpisah dengan Ummi, seorang sosok manusia yang sangan mulia hatinya, orang yang telah menjadi orang tua kedua setelah papa dan mama. Aku berpesan pada ummi, bahwa jangan ada air mata yang menetes mengiringi kepergianku ketanah rantau kedua, karena aku tidak dapat menahan perasaanku terlebih melihat air mata ummiku, aku khawatir jangan sampai airmata ummi akan menjadi penghalang atau setidaknya memberati langkahku. Memang, ummi kelihatan tabah tetapi aku tahu ummi-pun sangat berat untuk berpisah, dan tanpa disadari airmata kami-pun tidak dapat dibendung lagi, aku berjanji untuk kembali menjemput ummi jika kelak aku sudah meraih pekerjaan yang layak.

            Aku dan orang tuaku tiba di kota Mataram, kusadari inilah kali pertama aku sedikit lama tinggal di Mataram. Karena sebelumnya aku cuma lewat dan sejenak beristirahat saja ketika aku dalam perjalanan pulang ke Dompu dahulu. Aku begitu terkesan dengan taman dan rerimbunan pepohonan kota Mataram yang beritu tertata. Dari berita yang kudengar bahwa pohon-pohon pinggir jalan itu adalah sisa peninggalan jaman Belanda, dan kini membuat kota Mataram bertambah sejuk dan asri.

            Tujuan kami ke Mataram adalah mengajukan lamaran ke STAIN, kususun surat lamaran dan berkas lamaran ketika kami menginap di Losmen Pabean Ampenan, dan pagi hari esoknya kami mengajukan lamaran melewati Bapak H.Israil dan tanpa kesulitan aku diterima dan menjadi dosen Honorer pada Jurusan Tarbiyah Program Studi Tadris Matematika dan D2 PGMI. Langkah selanjutnya adalah mencari tempat pemondokkan, dengan bantuan almarhum H. Abubakar, aku mendapat pemondokan di gang Mawar No.28 Lawata Gomong.

            Hari-hari pertama sebagai dosen honorer yang masih baru sungguh menjadi tantangan tersendiri. Malam kupersiapkan semaksimal mungkin materi dengan buku dan diktat yang ada, besoknya aku menyampaikan pada mahasiawa. Akhirnya perjalanan waktu membuatku terbiasa dan lama kelamaan aku mulai menikmati pekerjaan itu.

            Satu cita-citaku yang sekaligus cita-cita orang tuaku agar aku dapat mengabdikan diri pada institusi DEPAG, sehingga pada sekotar bulan oktober tahun 1997 aku mendaftarkan diri sebagai Calon Pegawai Negeri sipil di lingkungan Depag. Dan aku akhirnya diterima serta diangkat pada jabatan Guru dan ditempatkan di MTsN Mataram. Kucoba melakoni dengan baik dan memfokuskan diri pada pekerjaan tetapku dan dengan terpaksa aku mencoba melepaskan kegiatan sebagai Dosen Honorer di STAIN Mataram.

            Baru beberapa bulan aku mengajar, lewat teman dekat, aku mendengar ada proyek peningkatan mutu guru MIPA ke luar negeri. Aku coba mencari tahu dan menelusurinya sampai ke Kanwil, akan tetapi aku terhalang karena aku belum menyelesaikan Prajabatan sebagai kewajiban CAPEG baru, aku-pun menyerah. Setelah masa Prajabatan kulewati dengan meninggalkan kenangan lucu dan menegangkan pada bulan November 1998, aku mendengar ada  proses ujian ulang untuk guru-guru yang akan dikirim keluar Negeri. Kuberanikan diri menghadap kepala Madrasah dan meminta ijin untuk ikut, dengan sedikit berat hati kepala Madrasah mengijinkan dan mulailah aku mengurus sendiri persaratannya. Target saya tidak lain adalah pengalaman, sehingga hasil dari Tes Bahasa Inggris tersebut tidak menjadi beban bagiku. Dengan persiapan yang sangat minim, kalau tidak dikatankan tidak ada, aku menjalani tes dengan penguji langsung dari KBIT Australia.

Selesai sudah tes tersebut, dan aku kembali beraktifitas seperti biasa. Pagi melanjutkan tidur karena pada sore harinya aku mengajar. Tidak ada firasat atau-pun yang lainya aku ditakdirkan lulus dan harus mengikuti tes kesehatan di Dempasar sebagai sarat mutlak untuk dapat di urus ijin tinggal di Australia (Visa).  Walau sedikit mengalami hambatan, aku dinyatakan lulus dan berangkat ke Jakarta tepatnya di PPPG Sawangan Bogor untuk mengikuti pelatihan bersama dengan 54 orang utusan 6 propinsi wilayah proyek BEP. 

 

PPPG Sawangan Bogor   

Daerah Sawangan tempat PPPG berlokasi termasuk dalam wilayah Bogor yang berbatasan langsung dengan wilayah Ciputat Jakarta Selatan. Kami bertiga utusan NTB yaitu Aozar Zawad, L.Hasbullah dan saya sendiri. Sementara Heri Sucahyono datang setelah satu bulan kami berada di PPPG.

 

Rutinitas disawangan sebenarnya cukup melelahkan, karena setiap hari kami harus menempuh pelajaran bahasa inggris mulai pagi hingga sore hari. Praktis kami beristirahat pada sehabis kelas dan waktu weekend. Pada sore hari, kami isi dengan olah raga dan weekend di-isi dengan jalan-jalan ke Ciputat dan tempat-tempat lain di Jakarta.

 

 

Kenangan yang paling indah sewaktu di Sawangan adalah secara kebetulan saya ditempatkan di kelas C, dan dikelas C itulah kami berinteraksi satu dengan yang lain. Dan rupannya dari interaksi itulah lahir benih-benih cinta antara saya dengan seorang gadis utusan dari Kebumen Jawa Tengah.

Aku sebenarnya tidak terlalu menghiraukan tumbuhnya benih-benih cinta disudut hati ini, karena saya sadar bahwa pada dasarnya dalam keluargaku “suku jawa” adalah salah satu suku yang masuk “daftar merah” untuk di ambil sebagai istri disamping dihatiku-pun sudah ada orang yang aku cintai.

Akan tetapi rupanya tanpa disadari benih cinta itu tumbuh dengan suburnya dan tak kuasa aku bendung. Sehingga dengan perasaan cinta itulah yang membawa kami lambat laun mencoba untuk mendalami diri masing-masing. Hari berganti, dia tumbuh menjadi besar dan mencoba mengisi hari-hariku, dengan cinta itulah yang membawa kami jalan-jalan sore disekitar komplek PPPG, olahraga bersama sambil minum soda susu di warung depan Komplek, bahkan membawa kami ke Blok M, dan kerumah keluarganya di Bekasi. Sampai Boing 737 dengan tujuan Melbourne-pun aku masih belum yakin terhadap apa yang terjadi antar kami berdua, padahal “dia” sudah tumbuh dan berkembang seiring perputaran waktu, dan bahkan sudah mengisi separuh relung hatiku, aku masih belum dapat melihatnya. Setelah “dia” tumbuh menjadi besar dan kokoh, aku baru menyadari dan takut jangan sampai dia layu dan “tercabut” dalam taman hatiku. Aku terpaku dan menatapnya dengan penuh harap dan cemas semoga “dia” masih tumbuh dan berkembang demi aku dan cinta serta cita hidupku dihari depan. Alhamdulillah, rupanya dia tidak pernah layu dan akhirnya aku petik dan mendekapnya setelah bersemayam dipelaminan hatiku sampai sekarang. (Bersambung pada episode Kenangan Di Melbourne Australia)

  

 

       

 

              

 

 

 

 

 

 

 

 

My Address

My E-Mail Address

Objective:

To find a fulfilling career that makes the best use of my skills.

Experience

Job Title and Company Name for My Most Recent Job (1/1/00-1/1/01)
Here is a description of my most recent job, including my job responsibilities, major projects I completed, and skills I made use of.

Job Title and Company Name for My Previous Job (1/1/99-1/1/00)
Here is a description of a previous recent job, including my job responsibilities, major projects I completed, and skills I made use of.

Job Title and Company Name for Another Previous Job (1/1/98-1/1/99)
Here is a description of a previous job, including my job responsibilities, major projects I completed, and skills I made use of.